Menyebut Kerawang mungkin yang terlintas dibenak Goyang Kerawang para penari-nya atau daerah lumbung padi bagi Jawa Barat. Padahal bukan cuma itu. Di Kerawang juga ada Situs abad ke 4 dan 5 tepatnya pada zaman Kerajaan Tarumanegara. Namanya situs Batu Jaya. Dinamakan begitu karena situs ini ditemukan di Desa Segaran, Kecamatan Batu Jaya, tepatnya di tengah hamparan sawah milik masyarakat.
Di situs itu ditemukan batu-batuan pembentuk candi fragmen tulang-belulang manusia dan binatang, gerabah, serta kerang-kerang laut kuno. Temuan paling penting dalam ekskavasi yang dilakukan antara lain fragmen cermin perunggu, fragmen sangkha emas, fragmen votive tablet berelief Buddha yang diapit Boddhisatwa. Di atasnya duduk tiga Tathagatha, sedangkan di bagian bawah terdapat inskripsi dengan huruf Jawa Kuno.
“Situs ini dibuat pada abad ke 4 dan 5 tepatnya pada zaman Kerajaan Tarumanegara. Situs Batu Jaya merupakan sebuah situs yang berada dalam satu komplek percandian tua di Jawa,”ujar Nasri Supriyadi, petugas pemelihara candi .
Batujaya adalah sebuah desa di tepi Sungai Citarum, sekitar 20 km di sebelah barat laut kota Rengasdengklok, Kabupaten Karawang. Batujaya hanya 20 km dari Ujung Karawang – tempat bermuaranya Sungai Citarum di Laut Jawa yang membentuk delta.
Sekitar 25 km ke sebelah timur, terdapat kampung Cibuaya – sebuah kampung yang di kalangan para ahli arkeologi terkenal sebab di dalamnya terdapat situs Cibuaya yang menyingkapkan artefak-artefak penting pra-sejarah (Neolitikum) Jawa Barat dan Indonesia. Cibuaya terletak 5 km dari tepi pantai. Dulu, mungkin Batujaya dan Cibuaya terletak di tepi pantai, sedimentasi Kuarter di wilayah ini sangat aktif.
Areal situs di Karawang luasnya sekitar 2.500 meter persegi. Di dalamnya terdapat beberapa buah candi yang tersebar di dua kecamatan yakni Kecamatan Pakis Jaya dan Batu Jaya. Candi- candi tersebut antara lain Candi Jiwa, Damar 1 dan 2, Blandongan, dan Candi Lempeng.
Situs Candi Jiwa dan Blandongan ditemukan pada tahun 1984, dipugar tahun 1996 hingga tahun 2000. Untuk pemugaran candi-candi ini, para tim eksvakasi candi memesan bata khusus dengan ukuran 38x12x7cm. Bata-bata itu kemudian disusun berdasarkan sketsa gambar bentuk candi yang telah dibuat sebelumnya. Sketsa itu sendiri dibuat dengan memperhatikan bagian-bagian candi yang masih tersisa.
Masing-masing nama candi tersebut memiliki kisah tersendiri. Candi Jiwa misalnya diberikan penduduk setempat karena konon setiap mereka menambatkan kambing gembalaannya di atas reruntuhan candi tersebut, ternak tersebut mati.
“Lama-lama warga desa curiga, ada apa dengan tanah itu? Mereka pun tidak berani lagi menambatkan kambing disana,”tutur Nasri.
Sedangkan nama Blandongan diambil dari dialek setempat yang identik dengan pendopo, dikarenakan lokasi candi tersebut sering dijadikan tempat istirahat seusai menggembalakan ternak.
Dipaparkan Nasri, di komplek percandian terselip sebuah cerita misteri, bahwa ada peraturan tak tertulis pengunjung dilarang membawa pulang batu-batuan candi. Namun ada beberapa oang yang tidak mengindahkan dengan membawa pulang beberapa buah batu candi untuk dijadikan sebagai jimat, penglaris atau sarana untuk memajukan usahanya.
Beberapa hari kemudian pengunjung tersebut kembali lagi ke lokasi candi untuk mengembalikan batu yang telah mereka ambil lantaran tidak tahan menghadapi 'gangguan-gangguan' yang menghantuinya.
“Kabarnya setiap malam, orang tersebut mimpi didatangi mahkluk tinggi besar yang minta batu batanya dikembalikan ke candi,”ungkapnya.
Cerita lain, ada seorang lurah diberitakan mati mendadak dalam mobil yang dikendarainya sepulang dari candi. Setelah dicek bagasi mobilnya terdapat sekarung batu bata yang diambilnya dari kompleks percandian itu.
Selain cerita itu, ada misteri lain yang belum terungkap. Dalam penggalian yang telah berlangsung selama 22 tahun ini telah menghasilkan banyak penemuan artefak yakni bongkah bata merah yang kemudian bisa direkonstruksi menjadi candi-candi yang cukup besar, tembikar-tembikar, manik-manik, tablet-tablet tanah liat.
Temuan mengejutkan dan baru ditemukan tahun 2006 adalah penemuan puluhan kerangka manusia yang masih utuh dari tengkorak sampai tapak kaki. Dua orang perempuan ahli arkeologi berkebangsaan Prancis dan Belanda khusus datang ke situs ini untuk mengekskavasi kerangka-kerangka di situs Batujaya, mengambil beberapa sampel tulang dan gigi dan akan melakukan penelitian DNA atas fosil tulang dan gigi guna mendapatkan data karakteristik ragawi yang lebih lengkap.
Metode terbaru dalam arkeologi adalah bahwa pengambilan spesimen fosil suatu ras manusia harus dilakukan oleh ahli arkeologi dari ras yang berlainan. Mungkin, ini untuk menghindarkan kontaminasi saat pengambilan sampel. Karena kerangka manusia di Batujaya diperkirakan dari ras Indonesia, yaitu Mongolid, maka yang mengambil sampel adalah orang-orang dari ras Eropa (Kaukasoid).
Penemuan kerangka manusia ini menimbulkan tanda tanya yang besar. “Apakah di sekitar candi adalah pemakaman raja-raja atau bangsawan jaman Tarumanegara? Atau kerangka itu persembahan untuk dewa sesuai kepercayaan tertentu?”. Karena selama ini tidak lazim di kompleks candi untuk pemakaman, biasanya adalah sekedar untuk upacara agama. Nasri tidak berani menjawab dugaan itu. Menurutnya kerangka manusia yang ditemukan masih diteliti lebih lanjut.
Hasil penelitian terhadap Candi Blandongan, menyimpulkan bahwa candi ini merupakan candi utama dari kompleks situs Batu Jaya. Kesimpulan tersebut diambil berdasarkan ukuran candi dan adanya pintu masuk pada keempat sisi candi dengan masing-masing sisi tersebut terletak di sudut Tenggara, Barat Daya, Timur Laut, dan Barat Laut dari mata angin.
“Pintu-pintu tersebut diperkirakan merupakan akses masuk ke bagian tengah candi untuk melakukan upacara keagamaan atau meletakkan sesaji,”tambahnya.
Berbeda dengan Candi Blandongan, pada Candi Jiwa praktis tidak ditemukan sama sekali pintu masuk ke bagian tengah candi. Susunan batu bata yang berbentuk gelombang pada bagian atasnya diperkirakan merupakan bagian dari relief bunga teratai.
“Dugaan awal pada bagian atas Candi Jiwa ini terdapat patung Budha berukuran besar yang duduk di atas bunga teratai,”paparnya.
Kisah Penemuan
Penemuan situs batujaya semula bermula pada 1984. Sejarawan Ajatrohaedi mengajak sejumlah mahasiswa Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia mengunjungi Desa Cibuaya, Kabupaten Karawang. Di sana, perhatian mereka tertuju kepada gundukan tanah di areal sawah. Ternyata, di sana ditemukan candi bercorak Hindu di dua lokasi. Belakangan, kedua lokasi tersebut dikenal sebagai Lemah Duwur Lanang dan Lemah Duwur Wadon.
Nasri menceritakakan, pada 1985, arkeolog Hasan Djafar kembali ke tanah air. Karena tertarik, ia memutuskan untuk turut meneliti kawasan Batujaya. Ditemukanlah tiga belas situs. Enam situs terletak di Desa Segaran dan tujuh situs di Desa Telagajaya. Pada 1986, kegiatan ekskavasi mulai dilakukan. Sejak itu pulalah, kawasan situs Batujaya menarik perhatian banyak orang.
Hampir tiga puluh tahun penelitian dilakukan di sana. Setidaknya tiga puluh situs sudah teridentifikasi di kawasan tersebut hingga saat ini. Berada di kawasan dengan radius lima kilometer. Dan, ternyata Kompleks Percandian Batujaya mengungkapkan banyak hal, meskipun belum sepenuhnya berhasil terungkap.
Dalam beberapa hal, candi-candi di Kecamatan Batujaya memang masih menyisakan misteri. Soal komposisi candi, misalnya. Para peneliti belum bisa memastikan seperti apa komposisi candi-candi di kawasan tersebut.
“Apakah membentuk bidang tertentu? Inilah yang membutuhkan penelitian lebih lanjut,”ujarnya.
Satu hal lagi, karena terdiri banyak candi saya yakin pasti ada pintu gerbang ke kawasan tersebut. Ini juga masih menjadi tanda tanya. Apakah pintunya berada di dekat muara sungai Citarum atau tempat lain.
Hal lain yang menjadi pertanyaan adalah orientasi arah hadap candi yang tidak lazim. Selama ini, sejarah Indonesia hanya mengenal dua tipe candi, yakni candi jawa tengah dan jawa timur. Kedua tipe candi itu masing-masing berorientasi arah hadap ke timur dan ke barat. Akan tetapi, candi-candi di Batujaya berbeda. Ada yang berorientasi ke barat daya-timur laut, ada yang ke barat laut-tenggara, dan ada pula yang berorientasi ke semua arah. Selain itu, ada yang belum diketahui orientasinya. Ini juga menjadi pertanyaan, apakah terkait dengan sistem kepercayaan tertentu.
Hal itu diduga hal itu terkait dengan sistem kepercayaan Buddha yang “belum mapan”. Apalagi, agama Buddha yang menyebar di lingkungan Kompleks Percandian Batujaya berada pada masa-masa awal Masehi. Sementara candi-candi tipe jawa tengah dan jawa timur bisa dibilang sudah ’mapan’ sehingga orientasi arah hadapnya pun jelas, barat atau timur. Akan tetapi, yang menarik untuk diteliti adalah apa yang ’dituju’ oleh candi-candi di Batujaya itu, apakah gunung, matahari, atau lainnya.
Meskipun masih berselimut misteri, Batujaya tak terbantahkan merupakan penemuan monumental, yang diyakini mampu memberikan pembaruan historiografi Nusantara. Apa yang berlaku di Kompleks Percandian Batujaya, akan menggugurkan berbagai pendapat lama, terutama tentang awal persebaran agama Hindu-Buddha. Selama ini, Jawa Tengah dan Jawa Timur kerap disebut buku sejarah sebagai kiblat.
“Ternyata, umur candi-candi di Batujaya malah lebih tua. Tentu saja, itu memastikan peran penting Jawa Barat,” katanya.
Penelitian lebih dari 20 tahun ini tentu telah menghasilkan beberapa kesimpulan sementara, yaitu situs ini berumur di ambang pra-sejarah dan sejarah Indonesia (abad ke-4 dan ke-5 Masehi, saat ini batas pra-sejarah dan sejarah Indonesia adalah tahun 400 Masehi).
Candi Batujaya terbuat dari batamerah dan mempunyai ciri-ciri candi Budha, tembikar dan manik-manik yang ditemukan adalah dari masa Neolitikum. votive tablets (semacam meterai) dari tanah liat bakar bertuliskan tulisan pendek dalam aksara Palawa.
Keberadaan Candi Batujaya meruntuhkan mitos bahwa di Jawa Barat tidak ada candi lain selain Candi Cangkuang (candi Syiwa) di Leles Garut. Candi Batujaya justru adalah candi yang paling tua di tanah Jawa yang berasal dari abad ke-4 atau ke-5. Candi Batujaya ini meruntuhkan mitos bahwa candi-candi yang berumur lebih mudalah yang dibangun dari bata merah setelah candi yang lebih tua dibangun dari batuan gunung (andesitik) (model candi Jawa Tengah ke Jawa Timur).
“Aksara di tablet2 tanah liat yang ditemukan di Batujaya sama dengan aksara yang dipakai pada prasasti-prasasti Tarumanagara yang ditemukan lebih tersebar di daerah Jawa Barat,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar